Palembang – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional III Palembang terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan operasional perkeretaapian yang lebih ramah lingkungan melalui pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).
Sebagai upaya nyata menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan energi, KAI Divre III Palembang memperluas pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan mengoperasikan solar panel di Depo Kertapati dan Depo Gerbong Simpang, masing-masing dengan kapasitas 40 kilowatt peak (kWp).
Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi berkelanjutan KAI dalam mengoptimalkan pemanfaatan energi bersih pada aset dan fasilitas operasional perusahaan. Sebelumnya, KAI Divre III Palembang juga telah mengimplementasikan solar panel di Kantor Divre III Palembang dengan total kapasitas 122 kWp, yang rata-rata mampu berkontribusi sekitar 60 persen terhadap kebutuhan listrik bangunan.
Manager Humas KAI Divre III Palembang, Aida Suryanti, mengatakan pemanfaatan energi surya merupakan salah satu langkah konkret perusahaan dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus menciptakan operasional yang semakin efisien dan berkelanjutan.
“KAI terus berkomitmen menghadirkan operasional perkeretaapian yang tidak hanya andal dan efisien, tetapi juga semakin ramah lingkungan. Pemanfaatan solar panel di Depo Kertapati dan Depo Gerbong Simpang merupakan bentuk nyata implementasi energi bersih dalam mendukung kegiatan operasional KAI,” ujar Aida.
40 kWp Solar Panel, Dukung Efisiensi Energi Operasional
PLTS yang diterapkan di Depo Kertapati dan Depo Gerbong Simpang masing-masing memiliki kapasitas 40 kWp. Sistem tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan energi sekitar 130 hingga 160 kWh per hari, tergantung kondisi cuaca, intensitas radiasi matahari, serta performa perangkat.
Energi listrik yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan operasional di lingkungan depo, termasuk berbagai aktivitas perawatan dan kegiatan penunjang operasional sarana perkeretaapian.
KAI menggunakan sistem PLTS on-grid, yaitu sistem pembangkit listrik tenaga surya yang terhubung langsung dengan jaringan listrik PLN. Energi yang dihasilkan panel surya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik bangunan, sementara jaringan PLN tetap menjadi bagian dari sistem kelistrikan sehingga keandalan pasokan energi untuk kegiatan operasional tetap terjaga.
“Penggunaan sistem on-grid memungkinkan energi surya yang dihasilkan dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional. Di sisi lain, jaringan PLN tetap terhubung sehingga kebutuhan listrik di fasilitas depo dapat berlangsung secara andal. Dengan demikian, aspek efisiensi energi berjalan seiring dengan aspek keandalan operasional,” jelas Aida.
*Tekan Emisi Karbon hingga Puluhan Ton per Tahun*
Selain memberikan manfaat dari sisi efisiensi energi, penggunaan PLTS juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon.
Dengan kapasitas 40 kWp, setiap instalasi PLTS diproyeksikan mampu menekan emisi karbon sekitar 126,4 hingga 139,2 kilogram CO₂ per hari, bergantung pada produksi energi listrik aktual dan kondisi operasional.
Jika diakumulasikan dalam satu tahun, potensi pengurangan emisi dari satu sistem PLTS 40 kWp berada pada kisaran 46 hingga 54 ton CO₂ per tahun.
Besaran tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan energi surya bukan hanya berkaitan dengan penggunaan sumber energi alternatif, tetapi juga menjadi bagian dari upaya KAI dalam mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas operasional perusahaan.
Kinerja PLTS juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kondisi cuaca dan musim, intensitas radiasi matahari, orientasi serta kemiringan panel, efisiensi inverter, hingga kebersihan permukaan panel. Oleh karena itu, produksi energi harian dapat mengalami fluktuasi sesuai kondisi lapangan.
Dorong Transportasi Berkelanjutan
Pemanfaatan energi surya di fasilitas operasional merupakan bagian dari upaya KAI untuk terus mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam menjalankan bisnis perusahaan.
Bagi KAI, keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui layanan transportasi massal yang memiliki peran strategis dalam mobilitas masyarakat, tetapi juga melalui pengelolaan infrastruktur dan fasilitas pendukung secara lebih efisien serta bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Implementasi ESG merupakan bagian penting dalam perjalanan KAI menuju bisnis yang berkelanjutan. Kami akan terus mengeksplorasi dan mengoptimalkan penggunaan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi perusahaan, masyarakat, dan lingkungan,” tutur Aida.
Melalui pemanfaatan teknologi dan energi baru terbarukan secara berkelanjutan, KAI Divre III Palembang berkomitmen menghadirkan ekosistem transportasi yang semakin efisien, andal, dan ramah lingkungan, sekaligus mendukung upaya nasional menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
“Langkah ini menjadi bagian dari perjalanan panjang KAI dalam membangun bisnis yang tidak hanya berorientasi pada keandalan layanan dan kinerja operasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang,”ujar Aida mengakhiri.













