PALEMBANG – Sosok pelatih lokal Sumatera Selatan, Ardi Hernando, kembali mencuri perhatian publik sepak bola nasional. Pria asal Banyuasin ini membuktikan kemampuannya hingga dipercaya terlibat dalam penyusunan National Football Philosophy (NFP) 2026 yang digagas Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Pelatih kelahiran Banyuasin, 7 April 1991, tersebut menjadi satu-satunya perwakilan Sumsel di antara 48 pelatih dan ahli sepak bola yang terlibat dalam penyusunan filosofi sepak bola nasional.
Kepercayaan tersebut tidak terlepas dari kiprah Ardi bersama Sumsel United U-19. Di bawah kepemimpinannya, tim berjuluk Laskar Juaro itu mampu meraih titel juara EPA Championship 2026.
Memulai Karier Kepelatihan di Usia 18 Tahun
Kecintaan Ardi terhadap sepak bola tumbuh sejak usia muda. Sebelum menekuni profesi kepelatihan, ia terlebih dahulu merasakan atmosfer kompetisi sebagai pemain lokal. Sejumlah ajang pernah diikutinya, mulai dari Piala Soeratin U-17, Pekan Olahraga Daerah (PORDA), hingga Pra-Pekan Olahraga Nasional (Pra-PON).
Pengalaman sebagai pemain memberinya pemahaman mengenai dinamika pertandingan, kedisiplinan, serta tuntutan yang harus dihadapi seorang pesepak bola.
Namun, Ardi tidak berhenti pada pengalaman sebagai pemain. Ketertarikannya terhadap pembinaan sepak bola membawanya memasuki dunia kepelatihan sejak usia 18 tahun.
Pada 2009–2010, ia mulai meniti karier dengan melatih SSB Patra Muda Pertamina. Di tengah usianya yang masih muda, Ardi sudah mengambil tanggung jawab membina pemain-pemain yang tengah belajar mengenal sepak bola secara lebih terstruktur.
Langkah tersebut menjadi fondasi perjalanan panjangnya. Melatih pemain usia dini bukan sekadar mengajarkan teknik mengoper, menggiring, atau menendang bola. Seorang pelatih juga harus membangun karakter, kedisiplinan, kerja sama, dan mental bertanding.
Ardi kemudian memperkuat bekal kepelatihannya dengan mengikuti pendidikan lisensi. Setelah mengambil lisensi D pada 2011, ia melanjutkan pendidikan ke lisensi C pada 2020.
Pada 2025, melalui dukungan tim KMP Bumara, Ardi mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan lisensi B Diploma. Tahapan ini menunjukkan upayanya meningkatkan kapasitas sebagai pelatih, seiring dengan bertambahnya pengalaman menangani tim dalam berbagai kelompok usia dan kompetisi.
Di luar lapangan, Ardi juga menjalankan profesi sebagai guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SDN 21 Rambutan, Kabupaten Banyuasin. Dua peran tersebut mempertemukannya dengan dunia pendidikan dan pembinaan olahraga yang sama-sama menuntut kesabaran, keteladanan, serta konsistensi.
Menimba Pengalaman dari Pembinaan Usia Dini hingga Kompetisi Nasional
Setelah bertahun-tahun membina pemain di SSB Patra Muda Pertamina, Ardi memperluas pengalamannya dengan menangani sejumlah tim dan kelompok usia.
Pada 2015, ia menangani PS Palembang U-20.
Setahun berikutnya, ia dipercaya melatih PS Palembang U-17 yang berkompetisi di Piala Soeratin. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan tuntutan pembinaan pemain remaja yang mulai memasuki fase kompetitif lebih tinggi.
Pada 2020, Ardi melatih SSB Bumara. Ia kemudian terlibat dalam perjalanan KMP Bumara FC, baik sebagai direktur teknik pada 2023 maupun pelatih dalam kompetisi Liga 3 dan Liga 4.
Bersama KMP Bumara FC, Ardi mencatatkan sejumlah pencapaian. Tim tersebut meraih posisi ketiga Liga 3 Zona Sumsel pada 2022. Dua tahun kemudian, KMP Bumara FC menjadi runner-up Liga 4 Zona Sumsel dan memperoleh tiket untuk melanjutkan perjuangan di tingkat nasional.
Capaian tersebut memperlihatkan pengalamannya tidak hanya berkutat pada pembinaan usia dini, tetapi juga berkembang ke pengelolaan tim dalam kompetisi senior.
Di sisi lain, rekam jejak Ardi dalam pembinaan pemain muda juga dihiasi sejumlah prestasi. Di antaranya, gelar juara ketiga nasional AFF U-12 ASSB U-12 pada 2020, juara PAJL U-12 Zona Sumsel pada 2019, serta juara GEAS U-12 Zona Sumsel ASSB U-12 pada 2018.
Ia juga mengantarkan tim meraih gelar juara Road to China U-12 PS Tria Zona Sumsel pada 2018 dan juara Piala Menpora tingkat Provinsi Sumsel bersama ASSB U-14 pada 2017.
Sementara itu, bersama PS Palembang U-17, Ardi meraih posisi ketiga Piala Soeratin pada 2016. Setahun sebelumnya, ia juga mencatatkan prestasi bersama PS Palembang dalam Piala Bupati dengan meraih posisi ketiga.
Rentang prestasi tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam berbagai jenjang pembinaan. Mulai dari pemain usia 12 tahun, kelompok remaja, hingga tim senior, Ardi mendapatkan pengalaman untuk memahami kebutuhan pemain pada setiap tahapan perkembangan.
Dipercaya Terlibat dalam Penyusunan Filosofi Sepak Bola Nasional
Prestasi bersama Sumsel United U-19 turut membuka jalan bagi Ardi untuk mendapatkan kesempatan terlibat dalam penyusunan National Football Philosophy 2026 yang digagas PSSI.
Dalam agenda yang berlangsung di Sahid Raya Hotel Yogyakarta pada 15–17 Oktober 2026, Ardi berdiskusi bersama sejumlah pelatih dan tokoh sepak bola berpengalaman, di antaranya Rahmad Darmawan, Jacksen F. Tiago, Nova Arianto, dan Kurniawan Dwi Yulianto.
Di antara 48 pelatih dan ahli yang terlibat, Ardi menjadi satu-satunya perwakilan Sumsel. Kesempatan tersebut memberinya ruang untuk bertukar pandangan mengenai arah pengembangan sepak bola Indonesia, mulai dari pembinaan akar rumput hingga level profesional.
“Alhamdulillah saya satu-satunya perwakilan dari Sumsel yang dapat kesempatan tersebut. Terpilihnya saya karena berhasil membawa EPA Sumsel United U-19 sebagai juara,” ujar Ardi, Sabtu (17/10/2026).
PSSI menyusun NFP 2026 sebagai acuan bersama untuk menyelaraskan arah pengembangan sepak bola nasional. Penyusunannya melibatkan berbagai elemen dalam ekosistem sepak bola, termasuk pelatih, akademi, klub, dan tim nasional.
Menurut Ardi, proses penyusunan program tersebut dibagi ke dalam tiga batch sepanjang 2026. Batch pertama berlangsung pada Agustus dengan fokus pembahasan arah permainan sepak bola Indonesia dan profil pemain yang ingin dikembangkan.
Sementara itu, Batch II yang berlangsung di Yogyakarta pada 1–17 Oktober 2026 berfokus pada aspek kepelatihan. Materi yang dibahas mencakup National Coaching Beliefs, National Coaching Framework, dan Common Football Language.
Pembahasan tersebut diarahkan untuk menyelaraskan keyakinan dan prinsip kepelatihan, kerangka pengembangan pelatih, serta penggunaan istilah sepak bola yang dapat dipahami secara konsisten.
“Intinya para pelatih ini dipanggil untuk menyempurnakan program sepak bola Indonesia. Hasil dari bahasan ini nantinya akan jadi acuan sepak bola di Indonesia mulai dari grassroots hingga profesional,” jelasnya.
Bagi Ardi, keterlibatan dalam penyusunan filosofi nasional bukan hanya kesempatan untuk menambah wawasan pribadi. Materi yang diperoleh juga dapat menjadi bekal untuk memperbaiki metode pembinaan dan meningkatkan kualitas pelatih di daerah.
Membawa Pulang Ilmu untuk Sepak Bola Sumsel
Setelah mendapatkan pengalaman berdiskusi dengan para pelatih nasional, Ardi berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada sesama pelatih di Sumsel, termasuk para pembina SSB.
Ia menilai materi dalam NFP 2026 disusun lebih terperinci sehingga dapat membantu pelatih memahami arah pengembangan pemain dan menerapkan pendekatan latihan secara lebih terstruktur.
“Dengan adanya filosofi yang baru ini, saya berharap sepak bola Sumsel akan semakin lebih maju. Karena program baru ini lebih bagus dan detail. Sampai nanti di Palembang saya akan bagikan program ini ke kawan-kawan pelatih,” ungkapnya.
Ardi juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala SDN 21 Rambutan, Banyuasin, serta pemilik SSB Bumara Palembang yang telah mendukung keikutsertaannya dalam agenda tersebut.








