PALI — Pagi itu, saat matahari belum meninggi, tangan cekatan Hermanila sudah memetik tanaman-tanaman herbal di kebun samping rumahnya. Jahe, Kunyit, Daun Kelor, Bunga Telang, Bunga Rosella, Bawang Dayak, Temulawak, hingga Centella Asiatica tumbuh sebur di kebun tersebut. Keterbatasan akses dan biaya pengobatan membuat Hermanila dan warga Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan akrab dengan tanaman herbal. Mereka mengandalkan tanaman herbal untuk menjaga kesehatan keluarga.
Sayangnya, potensi tanaman herbal di desa itu tak terkelola dan terbudidaya dengan baik. Warga hanya memanfaatkan tanaman yang tumbuh di sekitar lingkungannya saat membutuhkan. Pengetahuan terbatas menjadi penyebabnya.
Potensi ini ditangkap oleh Pertamina EP (PEP) Adera Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan Zona 4, yang diperkuat juga oleh studi pemetaan sosial. Dibuatlah program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA) yang memberi pendampingan kepada warga Desa Pengabuan, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT) Selaras Alam, dalam mengelola tanaman obat keluarga (TOGA).
Para anggota KWT Selaras Alam diperkenalkan pada cara pengolahan tanaman herbal yang lebih higienis, teknik pengeringan yang baik, hingga pemanfaatan hasil kebun sebagai produk kesehatan alami yang bernilai tambah.
Hermanila dan ibu-ibu KWT Selaras Alam kini membudidayakan tanaman herbal di kebun milik desa yang dikelola bersama. PEP Adera Field memfasilitasi greenhouse atau tempat yang digunakan untuk mengoptimalkan proses bercocok tanam agar tanaman tumbuh optimal. Ibu-ibu KWT Selaras Alam juga difasilitasi dry house atau tempat pengeringan tanaman.
Selain itu, dukungan teknologi berupa sistem drip irigasi otomatis turut membantu memastikan kebutuhan air tanaman terpenuhi secara lebih efisien dan terukur. Berkat pendampingan, Hermanila dan KWT Selaras Alam bisa memanfaatkan TOGA yang tumbuh di pekarangannya untuk kebutuhan kesehatan ringan. “Dulu kami hanya menanam dan memanfaatkan seadanya. Sekarang kami lebih paham bagaimana menjaga kesehatan dari apa yang kami tanam sendiri,” ucap Hermanila.
Budidaya tanaman herbal mampu meringankan pengeluaran biaya kesehatan rumah tangga Hermanila dan kawan-kawan hingga 30 persen per bulan. Selain itu, mereka juga sudah bisa memproduksi minuman herbal instan, seperti seperti Sirup Rosella, Ramuan Instan, dan Tisane Herbal. Berkat penjualan produk-produk itu, pendapatan anggota KWT Selaras Alam meningkat dari sekitar Rp1,5 juta per bulan menjadi Rp4,2 juta per bulan.
“Rasanya lebih tenang karena kami bisa lebih mandiri untuk keluarga kami,” ujar Ibu Hermanila.
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR Iwan Ridwan Faizal menyampaikan program PERMATA menjadi salah satu bagian dari komitmen perusahaan tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasi.
PEP Adera Field tak hanya berfokus memberikan keterampilan baru kepada masyarakat. Perusahaan juga ingin mendorong cara pandang baru bahwa kesehatan bisa dibangun melalui kemandirian. “Melalui PERMATA, warga diajak memahami pentingnya pola hidup sehat. Menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dari fasilitas besar, tetapi bisa dimulai dari apa yang mereka tanam dan konsumsi setiap hari,” kata Iwan.
Program ini telah melibatkan sekitar 60 orang penerima manfaat aktif. Lebih dari separuh penerima manfaat merupakan perempuan yang berperan sebagai penggerak utama di tingkat keluarga dan komunitas. Oleh karena itu, PERMATA telah menciptakan efek berganda (multiplier effect) melalui penyebaran praktik pertanian sehat dan pemanfaatan herbal kepada masyarakat di luar kelompok inti.
*Tentang PHR Regional Sumatra Zona 4*
PHR Regional Sumatra Zona 4, Subholding Upstream Pertamina, mengoperasikan tujuh wilayah kerja Pertamina EP (PEP) dan Pertamina Hulu Energi (PHE), yaitu PEP Prabumulih Field, PEP Limau Field, PEP Adera Field, PEP Pendopo Field, PEP Ramba Field, PHE Ogan Komering, dan PHE Raja Tempirai.
Wilayah-wilayah kerja itu tersebar di dua kota, Prabumulih dan Palembang, serta sembilan kabupaten, yaitu Muara Enim, PALI, Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu.
PHR Regional Sumatra Zona 4 di bawah koordinasi serta pengawasan dari SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).








