Kabut Asap dan Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Perhatian, KAI Pastikan Perjalanan Tetap Dipantau

PALEMBANG – Perjalanan kereta api dari dan menuju Sumatera Selatan kini berada di tengah dua kondisi lingkungan yang perlu diwaspadai. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menurunkan kualitas udara di sejumlah wilayah, sementara aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional III Palembang bersama Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan (BPKARSS) meminta masyarakat tidak mengabaikan kondisi tersebut, terutama mereka yang akan bepergian menggunakan transportasi umum.

Berdasarkan pemantauan BMKG, konsentrasi Particulate Matter (PM2.5) di Stasiun Pemantauan Musi 2 Palembang pada Minggu (6/9) telah mencapai kategori berbahaya.

Kondisi itu menjadi perhatian karena aktivitas masyarakat tetap berlangsung di tengah kepungan kabut asap yang berkaitan dengan meningkatnya kejadian karhutla di Sumatera Selatan.

Manager Humas KAI Divre III Palembang, Aida Suryanti, mengatakan masyarakat yang tidak memiliki kepentingan mendesak sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak memiliki keperluan mendesak. Namun, apabila harus bepergian dan menggunakan transportasi umum seperti LRT Sumsel maupun kereta api jarak jauh, kami mengimbau pelanggan untuk menggunakan masker sebagai salah satu langkah perlindungan diri,” ujar Aida.

Menurutnya, perlindungan terhadap kesehatan menjadi penting, khususnya bagi anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara.

Imbauan penggunaan masker juga berlaku bagi penumpang KA jarak jauh yang melintas dari dan menuju wilayah terdampak kabut asap. KAI Divre III secara khusus mengingatkan pelanggan KA Sindang Marga dan KA Bukit Serelo relasi Kertapati–Lubuklinggau (PP) agar memperhatikan kondisi kesehatan selama perjalanan.

Sementara itu, jalur perjalanan menuju Lampung mendapat perhatian berbeda menyusul aktivitas Gunung Anak Krakatau.

KAI memastikan KA Rajabasa relasi Kertapati–Tanjungkarang (PP) masih beroperasi sesuai jadwal. Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau belum menjadi alasan penghentian layanan tersebut.

Meski begitu, KAI tidak menganggap kondisi tersebut sebagai persoalan yang bisa diabaikan. Pemantauan perjalanan dan koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan terhadap perjalanan kereta.

Badan Geologi melaporkan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Pada 5 September 2026, gunung tersebut mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh.

Masyarakat juga telah diingatkan mengenai potensi bahaya erupsi, mulai dari aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas hingga hujan abu lebat.

“Khusus bagi masyarakat yang akan bepergian menggunakan KA Rajabasa menuju Lampung, kami mengimbau untuk selalu mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG, serta pemerintah daerah,” kata Aida.

KAI meminta masyarakat tidak hanya berpatokan pada jadwal keberangkatan, tetapi juga memperhatikan perkembangan kondisi lingkungan sebelum melakukan perjalanan.

Bagi perjalanan yang tidak mendesak, masyarakat bahkan diminta mempertimbangkan penundaan hingga kondisi dinyatakan lebih aman oleh pihak berwenang.

Aida menegaskan, KAI akan terus memantau perkembangan kondisi lingkungan dan potensi gangguan yang dapat berdampak terhadap perjalanan kereta api.

“Kami berharap pelanggan tetap tenang, tidak panik, dan selalu mendapatkan informasi dari sumber resmi. Yang terpenting, jaga kesehatan, gunakan masker saat diperlukan, dan jangan memaksakan perjalanan apabila kondisi kesehatan maupun situasi lingkungan tidak memungkinkan,” pungkasnya.